Team Takraw Bojonegoro

Senin, 16 Februari 2009

Asal Mula Sepak Takraw

Sepak Takraw
Paduan Fisik, Seni, dan Religiusitas

Makassar – Olah raga sepak raga yang kini lazim dikenal sebagai sepak takraw, sepintas hanya sebagai permainan yang mengandalkan fisik dengan gerakan-gerakan salto, sambil menendang bola agar jatuh di daerah lawan. Namun, hanya sedikit yang mengetahui bahwa nenek moyang sepak takraw adalah sepak raga. Sebuah permainan tradisional khas Makassar.
Menelusuri lebih jauh historis sepak raga itu, M.Dahlan Dg Gassing, salah seorang tokoh yang mengembangkan sepak raga di Desa Kaemba, Dusun Patte’ne, Kabupaten Maros, bercerita tentang sejarah perkembangan permainan rakyat yang salah satunya berkembang di Desa Kaemba ini. Dituturkan, sebelum berkembang menjadi sebuah olahraga takraw, ma’raga (gerakan melakukan raga), pada dasarnya adalah gerakan-gerakan seni bela diri. Ber-dasarkan cerita turun-temurun di Kaemba, permainan raga muncul dari sebuah kampung yang dahulu disebut Ujung Bulo, sebuah kampung Pa’raga. Dari tempat inilah awal mula berkembangnya seni ma’raga . Namun gerakan-gerakan ini pada mulanya hanyalah gerakan biasa tanpa iringan gendang, gong dan perangkat musik tradisonal lain yang kini kerap mengiringi pa’raga.

Dalam perkembangannya, kedatangan seorang Karaeng (raja) dari Gowa yang menyebarkan Islam dengan memperkenalkan alat-alat musik tradisional seperti gendang dan gong membuat ma’raga tidak lagi dilakukan dengan hanya gerakan-gerakan seperti biasa, namun diiringi dengan alat-alat musik tradisional tadi. Dengan demikian, bisa dipastikan ma’raga adalah salah satu medium penyebaran agama Islam di Kaemba. Hal ini hampir sama dengan yang dilakukan Sunan Kalijaga di Pulau Jawa, ketika melakukan syiar Agama Islam. Sebab melalui cara-cara seperti inilah, Islam dengan mudah diterima masyarakat, tanpa harus melalui jalan-jalan kekerasan.
Hingga kini, kentalnya corak Islami masih melekat pada atraksi pa’raga, setiap kali melakukan atraksi ma’raga, para pemainnya kerap melafalkan ”Lailahaillalah” dengan nada yang teratur. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga konsentrasi permainan yang tingkat kesulitannya sangat tinggi. Kini gerakan ma’raga mampu dilakukan dengan formasi tingkat tiga, yaitu gerakan membentuk tingkatan manusia sambil terus memainkan bola raga hingga pemain yang berada paling atas telah berdiri di posisinya. Gerakan inilah yang sekarang pada setiap penampilannya membuat penonton cemas bercampur kagum menyaksikan kepiawaian para pa’raga memadukan seni, kemampuan fisik dan nuansa religius.

Persera
Hingga saat ini, pa’raga dari Desa Kaemba ini terhimpun dalam Persera (Persatuan Sepak Raga) Ramba Kaleleng. Kelompok pa’raga ini bisa disaksikan atraksinya, jika ada undangan pejabat dalam pembukaan sebuah acara, pesta rakyat atau diutus menjadi duta budaya mewakili daerah untuk ajang lokal, nasional bahkan internasional. Untuk melengkapi keindahan seni pa’raga tersebut, dalam setiap pementasan lengkap dengan pakaian adatnya yang dikenal dengan songkok passapu, baju tutup dan lipa sabbe yang terbuat dari kain sutera.
Keberlangsungan permainan yang merakyat ini, kini bergantung pada keinginan dan niat pemerintah untuk bersama-sama dengan pelaku-pelaku seni masyarakat Kaemba untuk terus melestarikan atraksi tradisional yang mengharumkan nama daerah di pentas nasional maupun mancanegara. Di sisi lain, secara tidak langsung juga menggiatkan olah raga yang menggunakan bola yang terbuat dari rotan ini, guna mencari bibit-bibit olahragawan yang menekuni sepak takraw di pentas nasional maupun internasional.

0 komentar:

Posting Komentar

Snap Shots

Get Free Shots from Snap.com

Snap Shots

Get Free Shots from Snap.com

My Love Story

Surat-suratku untuk sang surya

Di barat itu sang surya terbiasa tenggelam...Namun surya dalam hatiku tak akan karam dimakan ruang waktu.....


Bagaimanakah kabar kekasihku di perantauan?. Saya selalu mencoba tertawa dalam tangis dan menangis untuk menyimpan tawa bila teringat tentang engkau.........

Ingatkah Engkau saat aku tega tak tega melepas kau tinggalkan kenangan dimana kita menuang madu demi madu asmara setiap harinya?Ingatkah engkau bagaimana petaruhku saat melepas kau pergi?menyuruhmu kuat,menyuruh tegar?Padahal aku tau payah aku menyimpan air mata..........

Hangus hatiku rasa-rasanya.Aku tak pernah ingin keputusan itu terjadi, hingga kau berada jauh terlempar dari penglihatanku.Jarak kita begitu jauh berkembang. Pekik teriak hatiku saat menanti kapan kamu hidupkan nyawa yang setengah terkubur ini????????

Tapi bila aku teringat sesuci-sucinya cintaku pada engkau kekasihku, aku tak akan pernah gundah lepaskan nyawaku untuk panjangkan nyawamu dariku..........

Biarkan ruang dan waktu tertawakan cintaku, bahkan aku akan menertawakannya lebih keras karena tak bisa mengukur kecintaanku akan engkau..........

Demikianlah Engkau Karam

Camar-camar laut mengepak-ngepak
bersalam-salaman dengan surya yang hendak berpulang
Lembayung yang senja meneriakkan petang
sunyi....
berteman langkah kalangan alam

Mataku pun tak lagi bisa melihat jujur
tetapi hatiku masih awas
kala pasir putih ini
disanding ombak-ombak petang
tetapi otakku masih waras
untuk menilik kejadian dulu-dulu

Disini dulu aku menilas jejak
jejak dimana raga kita terkembang
Air mataku mengalir di sisi laut
Demikianlah....
Engkau terbawa lenyap oleh besi-besi itu...

Snap Shots

Get Free Shots from Snap.com

Followers

Text

  ©Template by Dicas Blogger.